Being a Book Editor…

October 24th, 2008

 

1.     I get to read everything I want—nah, not really.

2.     I almost lost appetite for actually paying money for books in hopes of getting reimbursements from work.

3.     I get to look smart in my spectacles but not necessarily nerdy, because I can justify a sexy librarian look.

4.     I can act like I know what you’re talking about because I look like I know stuff.

5.     I copy-edit everything, from manuscripts to books, from free magazines to newspaper headlines, from billboards to advertisements.

6.     I have an inner red pen, like, all the time.

7.     I have an itch every time you make grammatical/spelling/pronunciation mistakes.

8.     I smirk at ads copywriters who can’t spell and their works.

9.     I rant about idiots who think they can translate books.

10.I get to act like a god to my writers/translators—in my own cubicle.

11.I get to act smugly superior because I read unpublished manuscripts/proofs/advanced copies of world-class writers.

12.I actually know what “Starred Review” in Publishers Weekly really means: a hard earned label you can paste on books to boost sales, but the adjectives pertaining to the books are not necessarily understood by readers—or book people for that matter. The same goes to NYT Book Review.

13.I don’t always have time to do what I really, really want—like re-reading Agatha Christie’s mysteries.

14.I still can’t draw a line between work and pleasure.

15.I can name-drop but that doesn’t mean that I’ve read their books.

16.I have a knack for spotting sex scenes in romance novels just by flicking the pages.

17.I secretly re-read my works and my own writings, published and unpublished, to masturbate intellectually.

18.I adore Thesaurus.

19.I named my pet “Webster”.

20.I have secrets about me and books that I will never, ever tell you.

 

The Thirteenth Tale by Diane Setterfield

October 11th, 2008

Kalau ada satu buku yang menggugah saya belakangan ini, itu adalah The Thirteenth Tale karya Diane Setterfield. Buku ini terbit tahun 2006, dan langsung melejit ke puncak tangga New York Times Bestseller tanggal 1 Oktober 2006, berkat pujian-pujian dari advanced proof-nya. Amazon memilihnya sebagai Editor’s Pick tahun 2006, dan para pelanggan Amazon menobatkannya sebagai Best Book of 2006.  

Tapi sebenarnya apa bagusnya buku ini? 

Oke. Bayangkan kisah ini: Dongeng di dalam dongeng, rahasia, kebenaran yang setengah-setengah, dusta (banyak sekali dusta), yang melibatkan sebuah rumah besar yang bobrok, lapuk, dan nyaris ambruk, anak gadis yang cantik dan keras kepala, kakak lelakinya yang sakit jiwa, pengurus rumah yang rabun dan nyaris tuli, tukang kebun, pengasuh anak, dan anak perempuan kembar yang liar dan hidup dalam dunia mereka sendiri. Dan, semua itu dipadu dalam jalinan prosa indah yang dituturkan oleh Vida Winter, penulis Inggris paling laris, yang kerap memberikan dongeng menawan tentang kehidupannya, hanya saja tak ada satu pun yang benar. Namun, karena merasa dirinya telah menjelang ajal, Miss Winter mengundang Margaret Lea, si kutu buku penulis biografi—yang juga memiliki hantunya sendiri—untuk menuliskan cerita yang sesungguhnya.

Tentu saja proses mengurai fakta-fakta tidaklah menyenangkan, bagi kedua wanita itu. Fakta, kebenaran, memang sering kali tidak nyaman. Terkadang, kita lebih memilih dusta, dongeng, apa pun yang memberikan rasa aman dan tenteram. Seperti kutipan indah di bawah ini, yang saya ambil dari bab pertama:

“My gripe is not with lovers of the truth but with truth herself. What succor, what consolation is there in truth, compared to a story? What good is truth, at midnight, in the dark, when the wind is roaring like a bear in the chimney? When the lightning strikes shadows on the bedroom wall and the rain taps at the window with its long fingernails? No. When fear and cold make a statue of you in your bed, don’t expect hard-boned and fleshless truth to come running to your aid. What you need are the plump comforts of a story. The soothing, rocking safety of a lie.” 

“Kebencianku bukan terhadap pencinta kebenaran, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Bantuan apa, penghiburan macam apa yang terkandung dalam kebenaran, jika dibandingkan dengan dongeng? Apa gunanya kebenaran, pada tengah malam, dalam kegelapan, ketika angin meraung seperti beruang dalam cerobong asap? Ketika kilat menerakan bayang-bayang di dinding kamar tidur dan hujan mengetuk-ngetuk jendela dengan kuku-kukunya yang panjang? Tidak. Ketika perasaan takut dan dingin membekukanmu menjadi patung di tempat tidur, jangan berharap kebenaran dengan tulangnya yang keras berbungkus kulit akan datang menolongmu. Karena yang kaubutuhkan adalah kenyamanan sebuah dongeng. Dusta yang memberikan perasaan aman yang membuai dan menenangkan.”

Dan pada akhirnya, setelah fakta-fakta akhirnya terungkap tanpa dapat dibendung lagi, Vida dan Margaret mau tak mau harus menguatkan diri menghadapi hantu-hantu yang selama hidup membayangi langkah mereka—meski terkadang disisihkan ke tempat yang paling jauh, tapi selalu ada: geming, sabar, menanti.

Hm.

Bagi pencinta buku, penyuka literatur, takkan sulit mengidentifikasi diri dengan para tokohnya. Vida Winter yang penulis novel, yang selama dua tahun memberikan 19 versi kisah hidupnya kepada wartawan yang mewawancarainya, dan ketika dikonfrontasi hanya mengatakan, “Itu memang profesiku. Aku ini pendongeng.” Kemudian ada Margaret Lea, si kutu buku yang sejak kecil hidup di antara buku-buku antik milik ayahnya, mengatakan, “Tentu saja aku lebih menyukai buku daripada manusia.”

Pada akhirnya, kecintaan pada buku dan literaturlah yang membuat buku ini berbeda. Dan meskipun fakta, kebenaran, kenyataan sering kali menyakitkan kala terungkap, ingatlah bahwa selalu ada kenikmatan dan kepuasan ketika kita mengetahuinya.  

Buku ini akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Dongeng Ketiga Belas. Hak pembuatan filmnya telah dibeli Heyday Films, yang memproduksi film-film Harry Potter, namun belum ada kelanjutan beritanya.

 

Cover edisi bhs Indonesia, karya emte

Cover edisi bhs Indonesia, karya emte