Trash Bin

February 3rd, 2008

Pagi-pagi kok udah nyampah…

Banyak sekali sampah pagi ini. Untunglah dari kemarin mental sudah siap, jadi meski banyak sampah, hati tidak marah. Ditanggapi dengan ketawa aja.

Pertama-tama, sebenernya sampah ini sudah diawali sejak Sabtu kemarin, ketika seorang teman merefer saya ke berita sindir-sindiran yang dilakukan Megawati dan SBY, soal poco-poco dan undur-undur (cari di detik.com deh, saya males bikin linknya). Wah, lucu tenan… Tapi yang tidak lucu, ketika ada pihak ketiga yang mendadak muncul dengan bendera putih dan higher moral ground, menegur kedua belah pihak agar bersikap pantas… nah, yang begini ini adalah yang sok jadi "pahlawan", mengail di air keruh.

Sampah kedua, Senin pagi buka email, ada forwardan dari teman saya, isinya kutipan-kutipan "artis" baru, Cinta Laura (hei, saya denger itu kamu tertawa), yang kalo menurut pelafalannya, Cincha Lawra… Sampah ini sampah yang lucu dan beneran membuat saya terpingkal-pingkal, jadi gak papa lah. Biarkan dia hidup. Beberapa kutipan itu bisa diulang-ulang kok, dengan gaya yang pas, untuk menghibur teman-teman…

Sampah ketiga, berita tentang DPR yang akan merenovasi kantor dan mengubahnya menjadi menara ala Petronas, yang menurut sumber di gedung rakyat itu, menelan anggaran lebih dari satu triliun rupiah. Gedung ini dilengkapi fasilitas modern, komputer dan internet, perpustakaan komplet. Selain itu, demi kenyamanan, juga disediakan ruangan seluas 10X10 meter untuk masing-masing anggota dewan, supaya tidak repot mencari hotel, karena di ruangan tersebut tersedia fasilitas sekelas hotel berbintang. Yang lebih penting lagi, akan ada ruangan khusus untuk DPR dan rakyat bertemu… Gedung rakyat yang (kini) dipagari (semakin) tinggi itu akan menjadi simbol kemakmuran rakyat Indonesia, katanya. Jadi perlulah anggaran sebesar itu.

Ha-ha-hah! Ini sampah yang paling lucu…

Saya jadi merasa nebeng tinggal di negara ini. Tokoh-tokoh politik yang saling sindir demi memenangkan suara, wakil-wakil rakyat yang katanya mengemban amanat rakyat, semuanya sama sekali lepas dari sasaran mereka yang sebenarnya: RAKYAT. Kenapa merasa nebeng? Lha saya yang sebenarnya masuk golongan rakyat, yang punya hak suara dan diwakili di gedung DPR itu, cuma kerja untuk sesuap pasta dan koleksi sepatu (:D) dan sama sekali gak digubris sama mereka.

Okelah, gak adil kalau contohnya saya. Rakyat yang mengibakan itu, yang katanya mau disejahterakan itu, gak digubris juga kok sama para politikus. Kesejahteraan memang tidak ada hubungannya sama politik. Rakyat tidak ada hubungannya sama politik. Di politik, bahkan jargonnya beda: konstituen. Urusannya dengan KTP, bukan dengan rakyat Indonesia yang berdarah merah.

Tapi begitulah sampah. Dan saya sudah mendaur ulang sampah-sampah ini dengan mengubahnya menjadi energi untuk menulis. Dan tetap bekerja. Dan tetap berdoa.

Sudah dulu ya, Cincha sudah too tired talking about craps… Cincha mau belajar bahasa Indonesia saja di Australia…




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind