Tak setiap orang…
Rupanya di malam hari, kesunyian membuat kita lebih peka. Tapi tak setiap orang, tidak juga aku, mampu menjadi penyair.
Itulah bedanya seniman dengan yang bukan seniman. Sesuatu yang biasa dan sehari-hari, di tangan dan otak seniman bisa menjadi indah, puitis, magis (walau tidak semua, tentunya).
Bapak yang mengatakan (dan menuliskan) kata-kata di atas memang benar sekali. Menurut saya sih, itu pun membuktikan bahwa dia lebih seniman daripada saya. Nyatanya dia bisa mengatakan sesuatu yang selama ini ada di kepala saya dalam wujud nyata, dengan cara yang indah pula.
I won’t tell you who he is. Bukunya terbit sebentar lagi. Bulan depan. But until then, saya terpaksa tidak mengatakannya. I would tell you, but then I have to kill you. Hey, I have a rep to protect.
Reflections |Leave a Reply