Mari Memasak

September 18th, 2006

Mau resep lagi? Hehe… Ini resep hati ayam yang saya mofidifikasi dari acara mari memasak di TV asuhan Kylie Kwong (hayyah!). Biasanya side dishnya french fries atau hash brown, tapi baguette yang enak juga cocok, karena bisa buat menyapu bumbu yang tertinggal di piring. Hmmm… baguette lickin’ good.

Resep ini untuk dua porsi. Takaran bumbunya… pake feeling dong ah.

Begini bikinnya:

4 hati ayam, masing-masing potong dua, tumis sebentar dengan butter. Jangan lama-lama! Bagian dalamnya harus tetap lembut, supaya tekstur dan rasa khasnya tetap terjaga. Sisihkan.

Meanwhile:

- bacon bits

- bawang bombay iris panjang-panjang

- bay leaves (nanti diambil, jangan lupa)

ditumis dengan sedikit garam dan gula (dikaramelkan, begitu). Tuang balsamic vinegar secukupnya, dan… eng ing eng… red wine. Biarkan di atas api, reduce sebentar sampai sesuai keinginan, lalu masukkan kembali hati ayam tumis tadi. Angkat, sajikan dengan salad yang di-dress dengan olive oil, balsamic vinegar, garam + merica.

Enjoy with a glass (or two, or more…) red wine.

Yum.

The Bikers

September 18th, 2006

Hari Sabtu atau Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk sarapan di Coffee Bean & Tea Leaf. Sarapan di sana memang istimewa: ada eggs benedict dengan roti rosemary yang wangi, ada salmon toast, ada muffin atau foccacia. Semua disertai kopi atau teh yang boleh di-refill sampai jam sebelas.

Anyway. Hari Minggu pagi kemarin saya ke sana. Agak kesiangan, karena keenakan di rumah, baca majalah Gourmet lawas sambil menikmati matahari yang muncul malu-malu. Sudah jam 10.30 saya sampai di sana, beruntung masih bisa dapat menu sarapan. Setelah memesan eggs benedict (di belakang mbak-mbak yang lamban banget kayak ayam nelen karet), saya duduk di teras, toh udara tidak terlalu panas, dan baju saya tidak akan bau rokok sepulangnya nanti. Seperti biasa, akhir pekan begini, CB Plaza Senayan dipenuhi penunggang motor gede. Kalau dilihat-lihat, ada beberapa kelompok yang membentuk sendiri, meskipun mereka saling kenal. Di sebelah sana ada kelompok yang lebih mapan, bapak-bapak (atau mas-mas) umur 40-an, yang sebelah sini kelompok yang lebih muda dan bergabung dengan kelompok pengendara Vespa. Semua mengenakan pakaian dan aksesori Harley Davidson. Ada yang malu-malu (cuma pake T-shirt-nya doang), ada yang pakai kemeja, bandana, helm, rompi, semuanyaaaaaa HD. Kelompok “muda”, kedengarannya lebih rame. Berisik banget.

Karena waktu itu sudah siang, dan biasanya mereka sudah berada di sana dari pukul sembilan, mereka pun mulai beranjak pulang. Kelompok tua lebih dulu, tak berapa lama kemudian kelompok muda juga siap-siap mau pergi. Beberapa masih mengobrol di dekat motor-motor mereka, “Mau ke mana nih?”, sebagian mulai mengenakan helm dan naik ke motor masing-masing. Lalu brrrrmmmm… Motor-motor itu pun berderum dengan gagahnya. Sejenak semua mata yang ada di sekitar tempat itu tak mampu mengalihkan pandang dari mereka. Motor-motor besar yang terang-terangan menarik perhatian, cowok-cowok keren yang tampil dengan tunggangan semencolok itu.

Dan seketika itu juga saya mengerti. Saya memahami daya tarik bikers dan motor-motor mereka. Inilah yang disebut seksi dalam konteks laki-laki. Selama ini saya memahami keseksian perempuan: high heels, rambut yang bergelung indah di bahu, dll. Tapi laki-laki seksi? Motor besar, cool attitude, derum garang dan mahal motor mereka.

Laki-laki dan perempuan memang beda. Bila selama ini saya memahami apa yang disukai perempuan, kemarin saya melihat passion para pria itu. Dan perbedaan itu kali ini tidak membosankan. Saya tak lagi mencibir sambil berpikir, huh, percakapan yang testosterone-laden, boriiiiiing. Kali ini saya melihat dari kacamata mereka, dan memahami sex appeal laki-laki. Inilah yang mereka jual di depan lawan jenis, as opposed to high heels and all the trimmings that women adore so much.

Dan sebagai perempuan, saya berpikir: "Not bad."