Sempat Sarapan!

February 28th, 2006

Sekarang mau posting yang enteng-enteng ajah ah… Stres mikirin negara (cie), and I mean really stressed out. Rugi kan?

Dua hari ini aku berhasil sempet sarapan di rumah, maksudnya nyiapin sekaligus makan. Hasrat hati sih punya waktu lebih panjang untuk sarapan, as I’m a sucker for breakfast. Breakfast is the best meal of the day (mungkin karena aku ini morning person, tapi itu… penting gak seh?).

Anyway, Minggu lalu aku sempat beli roti tawar di Carrefour; sengaja beli di sana meskipun roti tawar loaf-nya gak padat, tapi kalau dibikin tepung roti jadinya bagus banget karena garing. Senin pagi, aku keluarin daging burger olahan (belum sempet bikin sendiri dari daging cincang), dipanasin di wajan dengan margarin. Karena margarin sisa di wajan masih lumayan, rotinya gak perlu diolesin margarin lagi (hemat dan less fat :). Roti dipanggang sebentar bolak-balik, trus diolesi sandwich spread, saus manis-pedas, sedikit oregano kering, lalu burger ditaruh di atasnya, plus keju slice cheddar something-qui rit yang enak itu (gambarnya sapi Bonbel), yang langsung lumer di atas burger. Yum…

I know this blog may possibly tend to become a blog about food and cooking, but I can’t help it. So there.

I Believe in Goodness

February 23rd, 2006

Di antara segala kegerahan sosial belakangan ini, apa sih yang akhirnya mencuat di hati? Kemarahan? Keinginan membela "kaumnya" atau "ideologinya"? Kesinisan dan akhirnya kegetiran yang menghinggapi hati serta sikap saling menyalahkan dan membodoh-bodohkan segenap umat manusia? Jelas. Semua itu juga aku rasakan. Suatu hari bahkan aku sampai terbakar marah sendirian (kayak buku Pram aja nih), ngomel-ngomel gak jelas tentang RUU APP, dan sejak itu menolak ajakan (meski cuma bercanda) untuk membicarakan topik itu. Pertanyaan-pertanyaan menancapkan cakarnya di benak: Mau jadi apa negara ini? Apa sih yang dipikirkan orang-orang itu? Mampu gak sih mereka berpikir panjang, dua-tiga langkah ke depan? Pernah gak sih mereka membayangkan akibat jangka panjang sikap sok moralis mereka itu? Bla bla bla. Dst dst dst. Dan yang paling menyedihkan: Kalau negara ini berubah jadi tempat yang tak aman, tak nyaman untuk ditinggali, mau ke mana aku? Ini negeriku, tanah airku, tapi kok jadi tempat "sampah" begini?

Aku gak akan bicara panjang-lebar tentang RUU bodoh itu, tentang kekejaman terhadap sesama, tentang kemarahan sekelompok orang yang mengatasnamakan "masyarakat setempat" dan menutup rumah-rumah ibadah, tentang ketidakrelaan segelintir orang yang mengatasnamakan agama dan mengusir saudara-saudara seimannya dari tempat tinggal mereka karena mengamalkan ibadah yang dianggap "sesat". I won’t go there. Semua orang sudah tahu dan bisa melihatnya sendiri. Bukan itu yang ingin aku katakan.

I believe in the goodness in the heart of every man. That’s what I believe. Ketika kebencian yang kurasakan memuncak dan aku muak, ternyata sesudah itu every thing went downhill. Ketika aku sudah gak tahu lagi apa yang harus dinalar, dilakukan, dan hanya bisa berdoa agar akal sehat mencuat di tengah-tengah keberantakan ini, aku melihat satu hal yang ternyata sepanjang hidupku telah menambatkanku ke tanah, menjadi sauh tempatku berharap: Kebaikan, kualitas baik yang ada dalam diri setiap manusia. Ketika segalanya sudah siap jatuh di tepi tebing curam, akhirnya aku cuma bisa kembali ke satu hal itu. Kalau itu gak ada lagi, rasanya sih dunia gak akan bertahan selama ribuan tahun.

Jangan salah: kebaikan itu tidak sama dengan nilai-nilai moral atau agama buatan manusia yang barangkali punya banyak keterbatasan juga. Kebaikan itu adalah sumur yang dalam tempat manusia menggali sifat kemanusiaannya, tempat manusia berhadapan dengan manusia lain dan dengan besar hati memberikan tempat kepada sesamanya demi hidup yang lebih baik. Nilai-nilai moral/agama memang pantas dijunjung tinggi karena aku yakin semua berasal dari sumber kebaikan itu. Tapi ketika apa yang diagung-agungkan itu dihadapkan pada manusia, manusia seperti kita yang berdarah merah–yang mungkin tidak menganut nilai-nilai yang sama tapi toh sama berharganya di hadapan Tuhan–tidakkah arti kemanusiaan jadi lebih penting?

Kalau bukan manusia yang membela sesamanya, kalau bukan manusia yang memberi nilai pada tanah tempat dia berpijak, kalau bukan manusia yang merawat tanah dan air yang memberinya kehidupan,

siapa lagi?

Occupational Hazards

February 17th, 2006

Walaupun aku sudah janji pada diri sendiri gak akan posting personal stories, aku gak tahan juga. After all, I do own this blog…

Kali ini kebosananku memuncak. Buku yang lagi aku edit tebalnya 1028 halaman, sudah dikerjakan sejak tahun lalu (diseling buku-buku lain juga sih) tapi tetap aja gak selesai-selesai. Sekarang ini masih sepuluh bab dari 60-plus. Beberapa minggu lalu, kalau ditanya sampai di mana ngerjainnya, aku jawab, tenang, tinggal dua senti lagi kok! Hitungannya bukan lagi jumlah halaman.

Nanti, selesai mengedit buku tebal yang hubungannya denganku pasif-agresif ini (suka topiknya, suka pengarangnya, tapi gak suka prosesnya), aku akan kembali ngedit buku-buku frothy and bubbly, yang lama-lama bikin aku munte saking eneknya. Once upon I time, aku cukup suka fiksi kayak gitu, but there’s a certain limit to shallowness; there’s only so much one can take. Sudah lama sebenernya aku pengen ganti ke buku-buku yang lebih berbobot, tapi tanggung jawab tetep tanggung jawab.

Akibatnya, sekarang aku nerjemahin John Grisham (buku lain yang shallow terpaksa aku telantarkan tanpa tergarap), dan baca proof yang bener-bener beda, kayak Revolt In Paradise, atau novelnya John Irving, atau bahkan buku remaja. Dan buku-buku yang perlu di-review pun aku milih yang aneh-aneh, seperti beberapa waktu lalu aku baca The Historian, sedikit The Ghost Writer (karena serem, bo…), atau thriller yang lain. Anything but…

Masalahnya, bahan bacaan yang perlu di-review masih SANGAT banyak. And I’m overwhelmed.

Buntut-buntutnya, semuanya gak selesai. Mana laptop-ku bikin gemes saking dodolnya (optik CD-ROM rusak dan terpaksa aku beli external CD-RW)… Hiburanku sekarang cuma memanjakan mata dengan browsing majalah-majalah fashion (see my newest photo, there’s an item I lust for), dan menyesali my lack of interest to this world (but that’s for another posting).

But… it’s all in a day’s work.

My Own Chicken Parmigiana

February 15th, 2006

Hari ini terlalu banyak yang bikin emosi… tadinya udah mau nulis banyak tentang my pent-up anger, tapi buat apa? Alright, maybe not today.

Nah, daripada menguarkan aura negatif, mendingan aku share my cooking experiment hari Senin kemarin. Kebetulan, hasrat menyediakan sendiri masakan rumah yang hangat dan enak sedang membara. Sehari sebelumnya aku udah beli beberapa potong filet dada ayam, trus setelah mikir-mikir, I created my own chicken parmigiana.

Bahan (untuk 2 porsi):

4 filet dada ayam kecil

tepung roti (bikin sendiri aja, dari roti tawar toast yang digrind halus)

1 telur ayam kocok lepas

garam, merica, olive oil

Sausnya:

2 tomat diblender, jangan terlalu halus

1/2 bawang bombay, cincang

2 siung bawang putih, keprek, cincang

oregano and/or herbs de provence, garam dan merica

fettuccine sekenyang perut masing-masing

keju parmesan, agak banyak, karena nama masakan ini chicken parmigiana :)

Cara:

Filet dada ayam di-marinade dengan garam-merica dan olive oil, dicelup ke telur, digulingkan ke tepung roti, tekan-tekan supaya gak bubar jalan, trus digoreng, jangan gosong. Sausnya: Tumis bawang dengan olive oil, masukkan tomat cincang, masukkan bumbu-bumbu. Jerang sampai airnya berkurang banyak tapi gak kering.

Trus, fettuccine yang udah dimasak al dente disajikan di dua piring makan (lebih enak kalo piringnya diangetin), spoon over with tomato sauce, letakkan dua ayam goreng di atasnya, spoon over again with the sauce, bubuhi parmesan banyak-banyak. Sajikan panas.

Hmm… And then the world doesn’t seem so cold and cruel anymore.

Italia oh Italia

February 6th, 2006

Apa sih yang menarik tentang Italia? Mafia? That’s one part of the charms, I have to admit. Italian guys are gorgeous. Rasanya seperti ketemu bintang sinetron di mana-mana. Suka tampang Fachri Albar? Di Italia banyak banget. Cari aja di pasar-pasar. Bejibun.

Lalu apa lagi dong? Makanannya? Italian food is undoubtly the most favored food in the world. Not to mention one of the most well-knowned. Pizza? Semua orang tahu. Espresso? The best in Italy.

Jadi? Orang tidak bisa menggambarkan Italia dalam satu kalimat tentang apa yang paling menarik tentang Italia. Bicara tentang makanannya saja? Itu hanya satu aspek. Makanan dan kopi? Belum lengkap. Makanan dan kopi dan Italian hunk sitting in front of you in a quaint little café, dikelilingi bangunan dan gereja yang usianya ratusan tahun? Now, that’s more like it.

The point is, Italy is one package full of charming, quirky things that warm your heart to the very core. It’s in the food, the comfort of substantial food with the best ingredients you can find in the nearby market. It’s the espresso found at a local coffee bar, savored sip after sip while standing on your feet, resting your elbow on the counter, waiting for the next train or metro or bus or vaporetto to take you to your destination du jour; the aroma of fresh brewed caffè and the warmth of the sweet pastries that engulf you; the bang-bang-bang chatters in Italian and the quick pace of everyone going to work; the winking eyes of the barista behind the bar who serves your breakfast of the day. And it’s the mellowness and the slowness of enjoying lunch and dinner, the lingering espresso after meals that can stretch for hours.

In a country where a 300-year-old church is considered new, it’s not easy to pinpoint one word that describes all. Today you visit a museum of modern art with the likes of Warhol on the walls, in a city that had been built by its people to escape the Hun, and then gone to war against the Ottoman empire. Tomorrow you’ll go to an island which is famous for the art of making blown glasses and chandeliers, and you’ll buy cute glass rings for your friends back home. Yesterday you went from one trattoria to another while comparing prices, and picked one that served you the best spaghetti aglio olio pepperoncino you’d ever tasted, in a quaint narrow alley that lead to the piazza with the fountain of hundreds of years.

I told you: Italia, as they fondly and lovingly call it, is one package full of everything you dream about in long hectic days at work. One package full of beautiful places, great food, good coffee, nice people, and to be enjoyed one at a time. To be savored thankfully so to sustain you when things get rough and you need some place to escape your mind.

And if you happened to be in a charming café near a 13th century building, sipping espresso after long lingering lunch, with the most gorgeous man this side of Jakarta, well, you might say you’re ready to die happy.